Latest Post

Benarkah Korban pengguna narkoba, akan langsung direhabilitasi....!!!

Written By Kipas Foundation on Aug 11, 2014 | Monday, August 11, 2014



Pemerintah akan menerapkan Peraturan Bersama (Perber), dimana mulai 16 Agustus 2014, bagi pengguna narkoba, akan langsung direhabilitasi. Hal tersebut, telah disepakati melalui Perber, Badan Narkotika Nasional (BNN), Polri, Kejaksaan Agung, Mahkamah Agung, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan yang mengatur mengenai kewajiban merehabilitasi para pecandu dan penyalahguna narkoba.
Kepala BNN, Komjen Anang Iskandar, mengatakan, setiap penyalahguna yang tertangkap akan langsung diproses assesment. “Nantinya, jika memang terbukti, bahwa orang tersebut hanya penyalahguna, tim assesment akan merekomendasikan untuk merehabilitasi sejak dalam penyidikan pihak kepolisian,” kata Anang usai kegiatan “Sosialisasi Pedoman Pelaksanaan Teknis dan Pilot Project Rehabilitasi Bagi Pecandu dan Korban Penyalahguna Narkotika dalam Proses Hukum” di Hotel Park, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (6/8/2014) siang.
Dengan Perber tersebut, lanjutnya, penanganan penyalahguna narkoba yang tertangkap tidak akan lagi dipenjara. Penerapan Perber itu sendiri, saat ini, akan dilaksanakan di 16 kota. Kota-kota tersebut, yang nantinya akan menjadi pilot project, yaitu Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Bogor, Tangerang Selatan, Semarang, Surabaya, Makassar, Maros, Samarinda, Balikpapan, Padang, Sleman, Pontianak, Banjar Baru, Mataram, dan Kepulauan Riau.(Kutipan)

Kalau memang banar terlaksana ini menjadi langkah maju, namun pertanyaannya apakah ini telah siap di laksanakan, kenapa hanya ada di daerah tertentu saja, dari beberapa temuan di lapangan fungsi IPWL saja belum begitu terlaksana dengan baik, hal ini di sebabkan oleh SDM di IPWL RS yang di tunjuk dalam penerimaan IPWL sendiri masih belum siap melaksanakan. Bagaimana di Bengkulu???  jangankan langsung rehab "akses ipwl saja masih ribet", pecandu yang telah melaporkan ke menerima layanan IPWL bahkan telah menerima rawat inap di Provinsi Bengkulu jutru tidak di berikan kartu layanan  IPWL sebagai tanda rawat jalan. Saya melihat bahwa belum ada kepastian akan adanya penyelamatan pecandu dari Komitmen ini, di RSJKO di Bengkulu dan di penegak hukum lainya masi ada oknum - oknum yang mengambil keuntungan pribadi bisa saja ini menjadi ladang baru bagi oknum oknum tersebut ujar Merly. kutip My




Kapan Sebaiknya ODHA terapi ARV?

Written By 4petulai on Jul 30, 2013 | Tuesday, July 30, 2013

gambar: google.com
Beberapa saat yang lalu ada banyak sekali pertanyaan masuk baik ke twitter OBS ataupun BBM kami tentang kapan seorang ODHA sebaiknya memulai terapi ARV. Sangat menarik yaa.. karena ternyata penyedia layanan atau dokter punya banyak sekali pendapat yang akhirnya bikin bingung kita kita semua. Sedikit sharing aja berdasarkan apa yang kami tahu. Hingga Tolong koreksinya jika ada yang keliru yah.

Jadi Kebijakan memulai terapi ARV yang digunakan di Indonesia, masih berdasarkan pada kebijakan terakhir yang dikeluarkan oleh Kementrian kesehatan. Ini kebijakan kemenkesnya bisa dilihat di Link ini Surat Kemenkes

Nah, Mengacu pada surat diatas, jelas disebutkan bahwa angka CD4 masih jadi patokan. Angka CD4 <350, mulai terapi ARV. Dalam implementasinya, kadang dokter tidak mengacu pada ini jika dilihat kondisi tertentu yang specific. Misalnya adanya Infeksi Oportunis Berat atau jumlah virus yang tinggi. IO ini maksudnya adalah Infeksi Opportunistik. Ini adalah infeksi yang mengambil kesempatan di kala daya tahan tubuh seorang pasien sedang melemah. Oiya, Jumlah virus itu bisa diketahui dengan tes yang bernama Viral Load. Biayanya berkisar 600.000 – 1.200.000. Angka virus tinggi dan atau ada infeksi opportunistik berat, maka meskipun angka CD4 tinggi maka pasien akan dianjurkan tetap memulai terapi ARV.

Ada wacana yang sedang didiskusikan adalah kemungkinan terapi ARV ini menjadi metode pencegahan infeksi baru HIV yang efektif. Ini yang dikenal dengan nama Treatment as Prevention atau pengobatan adalah pencegahan. Dokumen pendukungnya bisa dilihat di hasil riset ini tapi Masih banyak perdebatan di topik Treatment as Prevention ini.

Misalnya: apakah hanya berlaku di hubungan seksual, apakah berlaku bagi heteroseksual dan juga homoseksual dan lainnya. Ide dasarnya adalah dengan memberikan ARV yang “termonitor” dan efektif bekerja maka tingkat penularan baru HIV bisa diturunkan sebesar 96%. Karena bukti ini semakin dipercaya, maka kemudian lahirlah wacana diperlukannya perluasan akses test HIV dan terapi ARV. Ini yang dikenal dengan Test and Treat.

Test and treat ini di Indonesia belum menjadi kebijakan jadi baru sekedar wacana. Kebetulan salahsatu kawan kami adalah anggota tim yang jalankan assessment Test and Treat ini bersama rekan WHO dan Kemenkes. Test and treat menekankan pada perluasan akses test HIV. Ini kenapa Kemenkes kemudian menaruh target tinggi sebanyak 4,5 juta orang akandites HIV sampai dengan 2015. Setelah orang dites HIV, bagi yang positif kemudian ditawarkan untuk memulai terapi ARV. Tanpa memperhatikan angka CD4 maupun kondisi fisik lainnya.

Tujuan akhir dari ini adalah agar setiap orang tahu status HIV mereka dan bagi yang positif diberikan terapi agar less infectious dan bisa bertahan hidup sehat lebih lama. Tapi kenyataannya tidak demikian. Banyak tantangan yang keluar ketika melakukan assesssment ini dan akan membuat test and treat tidak bisa berjalan dengan baik. Bicara test and treat tidak hanya bicara mengetes orang sebanyak-banyaknya dan kemudian diberikan ARV. Bagaimana kesiapan kita menyediakan ARV-nya? Apakah subsidi kemudian akan dicabut? Lalu bagaimana dengan kesiapan mental dari ODHA ketikajalani terapi ARV? Ingat ARV harus diminum dengan patuh seumur hidupnya jika tidak maka akan kebal dan justru bahaya

Berdasarkan hasil studi, orang yang memulai ARV dengankondisi tubuh buruk/Angka CD4 rendah lebih punya kecenderungan untuk lebih patuh meminum ARV dibanding yang memulai dalam kondisi sehat. Ada beberapa masalah lain yang masih terus didiskusikan sebelum akhirnya ada kebijakan atau tidak mengenai ini. Singkatnya, sampai hari ini TIDAK ada kebijakan memberikan ARV kepada ODHA begitu dia tahu statusnya atau tanpa memperhatikan angka CD4. Jika terjadi kasus dilapangan, ini disebabkan kelemahan pemahaman terkait dengan terapi ARV dan komunikasi yang terputus dengan dokternya. Sampai hari ini, memulai ARV harus dengan indikasi CD4<350, adnaya IO berat (tb) atau Viral Load tinggi. Silahkan, Ini link yang bisa dibaca untuk panduan memulai terapi ARV: 

Patent obat membunuh Pasien!

Tidak bisa disangkal lagi bahwa keberhasilan dalam mengendalikan epidemi AIDS di dunia salah satunya disebabkan oleh makin efektifnya terapi pengobatan yang dijalani oleh orang dengan HIV (ODHA) dengan menggunakan obat Anti Retro Viral (ARV). Obat ini telah berkembang maju dan mampu membendung replikasi HIV dalam tubuh manusia sehingga kadar HIV dalam darah bisa ditekan sampai dengan tingkat tidak dapat dideteksi dan orang tersebut akan tetap sehat. 

Memang sih, meskipun dinyatakan HIV dalam darah sampai tahap tidak dapat di deteksi namun pasien ODHA tersebut Tidak dikatakan sembuh karena HIV masih ada dalam tubuh manusia dan sewaktu-waktu bisa berkembang menjadi hebat kembali jika pasien tidak patuh meminum obat ARV. 

Jelas dibuktikan dalam berbagai riset bahwa efektifitas ARV telah menyelamatkan jutaan nyawa di dunia dan telah memberikan harapan hidup baru kepada orang yang sudah terinfeksi HIV. Selain itu, kehadiran ARV juga membawa peran bagi program pencegahan dengan memberi wajah “tidak menakutkan” kepada infeksi HIV sehingga orang berani untuk mengambil langkah melakukan test HIV. Efektifitas ARV telah menurunkan tingkat kematian akibat AIDS menjadi sama bahkan kurang dari penyakit lain seperti jantung, darah tinggi, hepatitis dan penyakit kronis lainnya. ARV telah menjadi sebuah alat kampanye yang strategis baik bagi program pencegahan maupun pengobatan AIDS sehingga epidemi ini bisa terus dikendalikan.

Strategi yang berkembang sekarang dalam program penanggulangan AIDS adalah bagaimana mendorong agar setiap orang mengetahui status HIV, mengetahui informasi pencegahan dan perlindungan dari HIV serta mendapatkan pengobatan ARV bagi yang sudah terinfeksi HIV.

Strategi semacam ini hanya bisa berhasil dengan bertumpu pada ketersediaan obat-obatan ARV serta obat-obatan infeksi opportunistik lainnya secara meluas, terjangkau dan berkualitas. Penyediaan obat (ARV dan obat-obatan lain) menjadi kata kunci yang esensial bagi program penanggulangan AIDS di Indonesia dan juga di seluruh dunia. Bisa disaksikan sejak ARV mampu disediakan dalam jenis generik, orang yang mengaksesnya semakin banyak dan bukan hanya dari negara kaya seperti halnya dengan obat patent namun juga negara-negara miskin pun mampu memberli obat generik ini demi menyelamatkan jutaan nyawa rakyatnya.

Sayangnya, harapan baru dengan menyediakan obat-obatan ARV kepada setiap ODHA yang membutuhkan kerap kali terhalang dan tidak sejalan dengan misi dari perusahaan farmasi yang memberlakukan patent terhadap obat-obatan demi menangguk keuntungan materi bagi pemilik sahamnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa adanya obat-obatan terbaru ini juga merupakan hasil penelitian yang di danai oleh perusahan farmasi raksasa dunia namun sampai sejauh mana standard etika yang diterapkan serta pengaturan yang dilakukan sehingga hak absolut menentukan harga ini tidak mengancam keberlangsungan jutaan nyawa di dunia?

Hak atas kekayaan Intelektual seolah menjadi sebuah tameng yang melidungi kerakusan industri farmasi raksasa ini tanpa memperhatikan keberlangsungan nyawa jutaan manusia yang membutuhkan obat berkualitas dan murah. Dengan berlindung di balik Hak atas kekayaan intelektual, perusahaan farmasi raksasa dengan seenaknya menentukan harga jual yang seolah dikaitkan dengan biaya penelitian yang dikeluarkan namun sebenarnya adalah dikaitkan dengan kerakusan para pemilik modal dari perusahaan farmasi raksasa itu.

Indonesia sendiri harus bersikap tegas menyikapi adanya fenomena ini. Akahkah kita biarkan industri farmasi raksasa ini kemudian berbuat semaunya dengan akibat membahayakan keberlangsungan program penanggulangan AIDS di Indonesia? Indonesia telah mengeluarkan lisensi wajib dengan Peraturan Presiden nomer 76 tahun 2012. Ini sebuah kebijakan politik yang sangat penting bagi keberlangsungan program kesehatan publik di dunia. 

Saatnya Indonesia bersikap serius dalam menindak lanjuti Perpres ini sehingga lisensi wajib ini tidak sekedar ada dalam dokumen namun mampu di benar-benar ARV generik ini di produksi oleh Indonesia demi keberlangsungan nyawa ODHA, keberhasilan program penanggulangan AIDS serta membantu negara-negara lain yang mungkin membutuhkan.

Sudah saatnya kita semua berdiri dan nyatakan dengan tegas bahwa “PATENT Obat Membunuh Pasien!”

Artiker KIPAS ini bersumber dari:   http://www.odhaberhaksehat.org/2013/patent-obat-membunuh-pasien/#sthash.6UeIduuA.dpuf

Kisah Dari Ruang UPIPI (kabar jaringan)

Ruang UPIPI (Unit Perawatan Intermediet dan Penyakit Infeksi) RSUD dr Soetomo Surabaya, menjadi tempat rujukan pengobatan bagi penderita HIV/AIDS di Surabaya. Aku bersyukur kepada Allah, diberi kesempatan untuk tahu sedikit lebih banyak tentang tempat perawatan bagi ODHA (orang dengan HIV/AIDS) ini. 

Terletak di bagian belakang dari bangunan RSUD dr Soetomo, hanya berjarak beberapa meter dari kamar jenazah. Di kanan-kiri jalan masuk ke ruangan ini, banyak orang laki-laki maupun perempuan yang memakai masker penutup hidung warna hijau. Mereka umumnya keluarga pasien yang berasal dari luar kota. Tikar umumnya dipakai sebagai alas tidur mereka pada malam hari. Kalau pagi hari lorong ini harus bersih dan ada larangan ketat untuk tidak menggelar tikar atau alas bentuk lainnya.

Aku berkesempatan beberapa hari mengunjungi ruang UPIPI beberapa bulan yang lalu, karena ada teman yang dirawat di sana. Awalnya, aku  dan keluarga teman ini tidak tahu kalau orang yang setiap harinya dekat dengan kami adalah ODHA. Dari keseharian dia bukan termasuk orang yang beresiko tinggi terhadap HIV/AIDS. Aku dan keluarganya sangat dekat, dan menganggapku seperti keluarga mereka sendiri. Temanku ini  seorang perempuan, muda dan cantik. Ceritanya bermula dari sakit batuk yang dideritanya selama beberapa minggu. Batuk tanpa dahak. Dia masih bisa beraktifitas seperti biasanya. Sampai pada suatu saat, sepulangnya kami dari pelatihan kerja di Pacet, Mojokerto, dia drop dan hanya bisa berbaring di tempat tidur untuk beberapa lama. Berat badannya turun dengan sangat drastis. Kalau malam hari, sering menggigil kedinginan, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Dalam beberapa kesempatan aku menjenguknya, keluarganya memberi informasi kalau dia sakit TBC, dan dengan perawatan rutin dan seksama, selama 6 bulan harus minum obat tanpa putus akan sembuh.

Satu-dua hari tidak ada perubahan, hingga satu minggu, akhirnya pihak keluarga membawanya ke rumah sakit dr Soetomo, di sini akhirnya terkuak. Dokter memanggil keluarganya dan menginformasikan kalau putrinya ini menderita TBC, salah satu Infeksi Oportunistik (IO) yang mendefinisikan penderita terkena HIV/AIDS. Keputusan ini disampaikan dari serangkaian hasil test yang dijalankan pada sample darah penderita. Ternyata temanku ini sudah masuk tahapan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome’). AIDS berarti kumpulan gejala akibat kekurangan atau kelemahan sistem kekebalan tubuh yang dibentuk setelah kita lahir. Tes CD4 yang dijalaninya menunjukkan jumlah CD4 darahnya di bawah 200, satu angka yang menunjukkan system kekebalan tubuhnya sudah sangat lemah/rusak. Hingga dengan mudah bakteri atau virus lain menyerang dan menimbulkan penyakit yang mengancam nyawa penderitanya. Temanku menjalani rawat inap di Ruang UPIPI.

Aku sebagai sahabat pun mengalami shock seperti keluarganya, kuputuskan segera browsing di internet untuk mengetahui lebih banyak tentang HIV/AIDS. Aku tidak banyak bertanya padanya, untuk menjaga perasaannya, demikian juga ke pihak keluarga. Aku lebih banyak berperan membangkitkan semangatnya untuk tetap fight menghadapi hidup. Banyak-banyak beristighfar dan mendekat kepada-Nya dengan cara sebisa dan semampu dia. Aku yakin Allah memberi jalan yang terbaik.

Malam itu, aku punya kesempatan menungguinya, menyuapi makan dan ngajak ngobrol. Aku pun punya waktu lebih banyak untuk melihat kondisi pasien di sekitarnya. Di ruangan luar terlihat lelaki muda, sekitar tiga puluhan, dengan badan yang sangat kurus, memakai respirator, napasnya terengah-engah, lingkaran matanya menghitam. Disampingnya seorang wanita tua berkebaya, menungguinya dengan raut muka sedih. Tangannya terlihat sigap menghapus keringat di wajah lelaki itu. Di depannya seorang yang lebih tua, bunyi napasnya menakutkan, grook..grook…grook. Kulit tubuhnya bagai tengkorak hidup, rupanya dia sendirian, tak tampak keluarga yang menungguinya. Sedang di perawatan wanita ini hanya dua orang pasien, temanku dan seorang perempuan tiga puluhan tahun. Badannya masih segar, boleh dibilang gemuk. Dia tak tampak sakit, tapi terlihat beberapa luka di tubuhnya. Waktu kutanya dia bilang terkena infeksi jamur kulit (kandidiasis).

Karena ada ibu temanku, kuputuskan keluar ruangan. Tujuanku bangku panjang yang ada di sebelah ruang perawat. Aku duduk, tak lama ada ibu-ibu tua yang keluar dari ruang perawatan laki-laki. Dia berjilbab. Wajahnya terlihat lelah. Basa-basi perkenalan membuat sang ibu bercerita panjang lebar. Adiknya dirawat sudah seminggu, karena diare akut. Dia terinveksi HIV karena narkoba, istrinya meminta cerai. Jadinya keluarga besar yang menanggung hidup dan pengobatannya. Dalam satu tahun sudah tiga kali bolak-balik ke rumah sakit yang ada di Kediri, dan terakhir harus dirujuk ke Surabaya. Pembicaraan kami terhenti begitu mendengar jeritan melengking dari keluarga pasien laki-laki. Ternyata ada yang meninggal, karena sudah masuk AIDS, dan penyakitnya sudah sangat parah begitu di bawa berobat. Aku tertegun dan miris mendengar semua kegaduhan di ruangan besar itu. Aku terduduk lemas.

Tiga hari selanjutnya aku sempatkan ke rumah sakit lagi. Sengaja aku tidak langsung masuk, berhenti dulu di ruang perawat. Hanya ada seorang perawat laki-laki, dan aku mengenalnya waktu dia memeriksa temanku. Aku coba ngobrol dengannya, dengan sebelumnya aku memperkenalkan diri. Dia bercerita, rata-rata pasien yang meninggal sudah terjangkit AIDS, CD4 darahnya dibawah 200, dengan penyakit Infeksi Oportunistik yang sudah parah, diantaranya karena Tuberkulosis (TBC), Pneumonia Pneumocystis (infeksi Paru-paru), CMV (citumegalovirus), infeksi yang mempengaruhi mata, dan Kandidiasis (infeksi dalam mulut/vagina). Rata-rata 10-15 orang meninggal perbulannya. Dia menjadi perawat sudah lima tahun. Dengan tulus ia bertugas, memeriksa kondisi pasien dan memberi support. Dalam bertugas ia selalu kenakan masker, sarung tangan, sepatu boot dan perlengkapan pengaman yang melindungi tenaga medis dari paparan HIV/AIDS. Lagi-lagi pembicaraan kami terhenti, begitu melihat salah satu keluarga pasien berlari kearah kami sambil terisak. Ia memberitahu keluarganya kritis. Kami berlarian menuju tempatnya dirawat. Dengan sigap Mas Perawat ini memeriksa denyut nadi pasien yang seruangan dengan temanku. Keluarganya berteriak histeris membuat gaduh. Alat infus yang terpasang di tangan pasien di pindah ke kaki, karena jarum infus tidak tembus di nadi tangan. Pasien itu benar-benar dalam kondisi sakaratul maut, beberapa menit kemudian dia tak bergerak sama sekali. Dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Aku kuatkan sahabatku, dia tampak shock. Keringat dingin membanjir di sekujur tubuhnya. Selang beberapa waktu, jasad perempuan muda itu telah dibawa ke ruang jenazah. Kami yang ada di ruangan itu saling menguatkan. Keluarga temanku bareng-bareng membaca surat Yasiin, diikuti olehnya.

Sehari berselang dari peristiwa itu, ibunya meneleponku, meminta untuk datang ke rumah sakit sore itu juga. Aku tak kuasa menolak permintaan perempuan ayu yang kuanggap ibuku itu. Beliau kabarkan sejak siang tadi, temanku diam seribu bahasa. Makan siang hanya disentuhnya sedikit. Badannya mendadak panas disertai keringat dingin yang terus membanjir. Tiba di ruangan, kulihat wajah temanku sangat pucat. Telapak kaki dan tangannya sangat dingin, nafasnya terengah-engah. Ibunya hanya bisa terisak. Keluarga lainnya juga berdatangan. Bergantian kami membacakannya kalimat thoyibah, membaca surat Yasiin, dan bacaan kalimat syahadat. Untuk beberapa waktu dia mengalami kritis. Matanya berkaca-kaca tanpa bisa berkata sepatah katapun. 

Dari tatapan matanya dia mengikuti bacaan Allah…Allah yang aku tuntunkan. Kami semua mengalami ketegangan yang luar biasa. Mas Perawat dengan Dokter jaga berusaha menyuntikkan sesuatu untuk membuat keadaan lebih stabil. Usaha itu berkali-kali dilakukan, hingga beberapa menit berlalu, dan akhirnya Mas Perawat memberitahu kami untuk terus menuntun sahabatku mengucapkan kalimat yang mengagungkan kebesaran-Nya. Dengan terisak Ibunya membisik di telinga sahabatku, “Ibu ikhlas Nak, bila Engkau pergi menghadap Allah. Maafkan Ibu, Bapak dan saudara-saudaramu yang lain ya, demikian juga kami, terutama Ibu akan selalu memaafkan semua kesalahanmu. Ibu ridho Nak.” Semua yang hadir menahan tangis, bergelayut dengan fikiran masing-masing. Beberapa detik kemudian, jantungnya berdetak untuk terakhir kali. Dan, Innalillahi wa inna ulaihi rojiun, sahabatku telah berpulang keharibaan-Nya tepat sesaat adzan Isya berkumandang.

Aku terdiam seribu bahasa, takdir telah memisahkan kami. Ada yang perih di dadaku. Beberapa hari ini aku saksikan beberapa orang meninggal di depanku karena HIV/AIDS. Aku hanya berharap semoga virus ini dapat di hambat penyebarannya, dengan peran serta semua elemen bangsa ini. Karena rata-rata yang menjadi korban adalah mereka yang masih usia produktif, baik laki-laki maupun wanita. Bangsa ini membutuhkan generasi penerus yang handal, sehat jasmani dan rohani. Ancaman narkoba, perilaku seks bebas dan penularan dari ibu HIV/AIDS ke bayinya  yang menjadi penyebaran virus ini harus di hentikan. Tidak semudah membalik telapak tangan memang. Tapi dengan membentengi diri masing-masing dari hal-hal di atas, Insya Allah kita tidak termasuk golongan yang beresiko tinggi terhadap HIV/AIDS. Dan kampanye sosialisasi bahaya HIV/AIDS harus didengungkan di semua kalangan termasuk ibu rumah tangga. Termasuk cara pandang terhadap ODHA, cara penularan HIV/AIDS, cara menghindarinya dan pengobatan atau tindakan medis terhadap HIV/AIDS. Terpenting hindari segala bentuk diskriminasi terhadap ODHA, mereka juga punya hak yang sama sebagai warga negara dan warga masyarakat. Yang kita musuhi adalah virusnya, bukan pribadi orangnya. Mereka tetap saudara kita, yang wajib kita beri  dukungan untuk tetap berkarya dan memberi kontribusi pada bangsa dan negara ini.

di Post kembali dari tulisan
Sulistyorini / @sulistyorini_rini / http://sulistyorinisby.blogspot.com/2012/12/kisah-dari-ruang-upipi.html

Boleh kah ODHA Berpuasa?

Written By 4petulai on Jul 15, 2013 | Monday, July 15, 2013

Boleh kah ODHA Berpuasa, boleh ya dengan syarat..
Setiap bulan Ramadhan, seluruh umat Islam diwajibkan menjalankan puasa mulai dari sebelum fajar sampai matahari terbenam. Rentang waktu antara tersebut rata-rata mencapai 13-14 jam. Bagi mereka yang tidak memiliki masalah kesehatan, mungkin hal tersebut tidak terlalu berpengaruh. Namun bagaimana dengan Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) yang setiap 12 jam harus meminum obat antiretroviral (ARV)?

Antiretroviral adalah obat untuk menahan laju perkembangan HIV (virus penyebab AIDS). Aturan minum obat ARV sangat ketat, karena terkait langsung dengan tingkat perkembangan HIV di dalam darah. ODHA boleh saja berpuasa, namun dengan catatan harus terlebih dahulu berkonsultasi dengan dokter. Kondisi tubuh adalah faktor penentu apakah seseorang ODHA mampu berpuasa atau tidak. Selain itu, kewajiban meminum ARV juga menjadi pertimbangan utama. Jika kondisi sudah sangat rentan dan tidak memungkinkan, Rohana mengungkapkan, aturan dan syarat puasa dapat dilakukan dengan membayar fidyah atau memberi makan bagi fakir miskin.

Keputusan untuk berpuasa atau tidak, memang ditangan ODHA. Namun mereka tetap harus mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan selama berpuasa karena kurangnya pasokan obat ARV di dalam darah akan memberi peluang besar bagi virus HIV untuk berkembang biak. Namun, ODHA berhak Sehat percaya bahwa, ibadah bulan suci Ramadhan akan memberikan banyak manfaat kepada semua umat manusia, berkah dari Yang Maha kuasa. Namun yang benar benar perlu diperhatikan adalah kesanggupan tubuh untuk menjalankan puasa tersebut. Jangan memaksakan diri. namun, Dengan berpuasa ODHA dilatih untuk disiplin dan membantu ODHA patuh minum ARV.

Seorang ODHA dianjurkan untuk mengonsumsi ARV jika CD4-nya di bawah 350. CD4 adalah jenis sel darah putih atau limfosit. Sel tersebut adalah bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh manusia. Dari aspek medis, tidak ada batasan CD4 yang bisa dijadikan patokan apakah seorang boleh berpuasa atau tidak. Ada beberapa persepsi tentang bagaimana waktu minum obat ODHA saat berpuasa, khususnya ARV.

Cara paling tepat mengonsumsi obat bagi ODHA adalah dengan mengubah waktu minum ARVdisesuaikan dengan waktu makan bulan, yaitu mulai dari waktu berbuka hingga makan sahur dan sebelum imsak. namun, Perlu adaptasi kira-kira satu hingga dua minggu untuk minum obat dengan cara diundur atau majukan waktu sahur atau buka puasa. Adapun adaptasi lain adalah jumlah obat disesuaikan dengan kebutuhan ODHA dan jenisnya harus sesuai dengan kualitas makanan bergizi, yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral serta air. Kipas Groups

Pendampingan Bagi Warga Binaan kasus Napza di Lapas

Written By Kipas Foundation on Jul 14, 2013 | Sunday, July 14, 2013

Ilustrasi lapas
Penerapan pasal-pasal dalam Undang-undang No.35 tahun 2009 tentang Narkotika belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Korban Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza) masih belum mendapatkan haknya, khususnya hak atas kesehatan. Korban Napza masih belum terpenuhi haknya untuk mendapatkan layanan kesehatan (rehabilitasi) seperti yang sudah diatur dalam undang-undang tersebut. 
 
Korban Napza masih mendapatkan hukuman pidana/Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) atas kasus kepemilikan Napza. Di dalam Lapas, korban Napza sangat terbatasi aksesnya terhadap layanan kesehatan khususnya layanan pemulihan adiksi dan pencegahan penularan HIV.

Diperlukan suatu terobosan strategi untuk membantu mereka, salah satunya yaitu dengan melakukan pendampingan dengan metode pemberian informasi terkait dengan adiksi dan pencegahan penularan HIV lewat diskusi kelompok. Dengan strategi ini dapat membuka akses mereka terhadap layanan kesehatan, pendidikan dan pengetahuan. 
 
Diharapkan setelah selesai menjalani masa hukuman, mereka memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan perilaku yang lebih aman terkait pencegahan HIV, adiksi dan mempertahankan perilaku aman mereka tersebut. Kegiatan ini lebih spesifik menyasar kepada Warga Binaan Pemasyarakatan yang terkait dengan kasus Napza, khususnya kepada korban penyalahgunaan Napza yang sudah di verifikasi oleh pihak Lembaga Pemasyarakatan.

Update Data Pengidap HIV/AIDS di Bengkulu

Data jumlah pengidap HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus atau Acquired Immune Deficiency Syndrome) yang dilansir Lembaga Swadaya Masyarakat Kantong Informasi Pemberdayaan Kesehatan Adiksi (KIPAS), berbeda jauh dengan data milik Dinas Kesehatan Kota. Kipas melansir jumlah pengidap HIV/AIDS di Bengkulu mencapai 476 kasus dengan kasus terbanyak ditemukan di Kota Bengkulu sebanyak 115 kasus hingga pertengahan tahun 2013 ini. Diantara pengidap di kota, terdapat anak-anak usia Balita 1 orang dan 2 orang anak-anak usia 7 tahun.

Namun saat dikonfirmasi ke Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, data jumlah pengidap HIV/AIDS sangat jauh berbeda. Data yang dilansir Dinas Kesehatan Kota Bengkulu tahun ini hingga April 2013 terdapat 30 kasus HIV/AIDS di Kota Bengkulu, dengan 2 kasus pada Balita usia di bawah satu tahun, yang penularannya dari orang tua.

Kepala Dinkes Kota Bengkulu, melalui Kasi Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Nelli Hartati menuturkan jika melihat pola penyebarannya setiap tahun, maka tahun ini kasus HIV/AIDS di Kota Bengkulu cukup tinggi yang diperkirakan karena pendataan yang dilakukan pihak LSM cukup aktif.

Penyebaran kasus penyakit menular tersebut pada anak, memang sangat disayangkan yang diakui akibat ibu penderita selama hamil tidak terpantau, hingga akhirnya melahirkan anak secara normal yang berisiko tinggi menular pada anak. Dijelaskan Nelli, prosedur kehamilan dan melahirkan bagi ibu penderita positif HIV/AIDS seharusnya menjalani terapi khusus dan rutin mengkonsumsi obat Anti Retroviral (ARV) yang memungkinkan anak lahir negatif HIV.

Diakui Nelli, kurangnya pemahaman dari pihak paramedis termasuk di dalamnya bidan, perawat dan mantri di daerah, menyebabkan penanganan terhadap kasus HIV/AIDS itu sering kali terlambat diantisipasi.

Ke depan dikatakan Nelli, pihak Dinas mulai mensosialisasikan pelayanan khusus terhadap orang yang terindikasi menderita HIV/AIDS oleh bidan, dengan melakukan pemeriksaan awal melalui screening test bagi ibu hamil khusus penyakit berbahaya dan menular termasuk HIV/AIDS yang selama ini biasanya dilakukan terpisah.

Advokasi Kebijakan Korban NAPZA

napza-ilustrasi
Advokasi sosial adalah kegiatan yang dilakukan untuk membantu korban penyalahgunaan napza agar mampu menjangkau sumber-sumber atau pelayanan sosial yang menjadi haknya. Hal ini juga diatur dalam undang-undang bahwa Advokasi sosial dimaksudkan untuk melindungi dan membela seseorang, keluarga, kelompok, dan/atau masyarakat yang dilanggar haknya. Advokasi sosial diberikan dalam bentuk penyadaran hak dan kewajiban, pembelaan, dan pemenuhan hak. Advokasi sosial juga merupakan upaya yang sistematis dalam rangka mempengaruhi pengambilan keputusan pada sistem yang kurang responsif atau kurang adil agar memihal kepada kepentingan korban dalam upaya pemulihan.

Advokasi sosial dilakukan tidak terlepas dari upaya untuk memberikan dukungan dan penguatan terhadap upaya perlindungan sosial itu sendiri. Pada dasarnya tujuan advokasi adalah untuk mengubah kebijakan, program atau kedudukan (stance) dari sebuah pemerintahan, institusi atau organisasi. Advokasi pada hakeatnya adalah apa yang ingin rubah, siapa yang akan melakukan perubahan tersebut, seberapa besar dan kapan perubahan itu bermula. Tujuan advokasi juga haruslah merupakan langkah peningkatan yang realistis ke arah tujuan yang lebih luas atau menuju suatu visi tertentu. Menurut Zastrow (1999) advokasi adalah menolong klien atau sekelompok klien untuk mencapai layanan tertentu ketika mereka ditolak suatu lembaga atau suatu sistem pelayanan, dan membantu memperluas layanan agar mencakup lebih banyak orang yang membutuhkan.

Advokasi sosial bagi penyalahgunaan napza dilaksanakan agar berbagai pihak, baik sistem atau kelembagaan memiliki respon terhadap kepentingan-kepentingan korban penyalahgunaan napza dalam upaya pemulihan. Dalam advokasi dimaksudnya;

  1. Membantu penyalahguna napza untuk memperoleh hak-haknya, untuk mendapatkan pelayanan, sumberdaya dan pendampingan dalam rangka pemulihan, kasus yang melanggar hukum serta mempengaruhi pembuat kebijakan untuk merubah atau membuat kebijakan yang berpihak kepada mereka. 
  2. Menciptakan suatu lingkungan sosial yang mendukung pasca pemulihan seperti halnya pengupayakan penerimaaan terhadap mereka di keluarga, masyarakat, organisasi-organisasi sosial, sekolah, dan dunia kerja.
  3. Pengupayakan penyalahguna napza mendapatkan pelayanan yang berkualitas dan melindungi mereka dari salah perlakuan (malpraktek).

Sepuluh Alasan Mengapa Pecandu Perlu Datang ke Rehabilitasi

Banyak orang memandang Rehabilitasi dengan sebelah mata, mereka kurang menganggap penting peranan sebuah Pusat Rehabilitasi. Para korban penyalahguna Narkoba dikirim ke Pusat Rehabilitasi dalam keadaan terpaksa atau sudah dalam kondisi yang sangat parah. Banyak keluarga kurang menyadari bahwa semakin parah kondisi seorang pecandu akan semakin mempersulit proses recovery-nya, selain itu juga akan membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama.

Berikut ini ada sepuluh alasan mengapa seorang pecandu perlu segera datang ke Pusat Rehabilitasi Penyalahguna Narkoba :

1. Datang ke rehabilitasi secara nyata dapat menyelamatkan hidup.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa efek narkoba bisa merusak organ-organ penting di dalam tubuh. Penyakit HIV/AIDS, hepatitis, kerusakan otak, jantung, paru-paru, dll selalu mengancam para pemakai Narkoba. Penyakit kecanduan, bila tidak segera diatasi maka ujung-ujungnya adalah kematian. Belum lagi dampak sosial yang diakibatkan oleh perilaku pemakai Narkoba, banyak keluarga yang mengalami kehancuran, baik fisik maupun mental. Tempat yang paling tepat bagi seorang pecandu adalah Pusat Rehabilitasi, oleh karena itu sangatlah tepat bila keluarga segera mengirimkan si Pecandu itu Pusat Rehabilitasi demi menyelamatkan hidupnya dan orang-orang yang ada di sekitarnya.

2. Datang ke rehabilitasi berarti masuk ke dalam jaringan baru dan bertemu dengan orang-orang yang lebih positif.
Lingkungan sekitar sangat mempengaruhi perilaku seorang pecandu. Lingkungan atau teman yang negatif (negatif peer) menjadi salah satu pemicu seorang menggunakan Narkoba. Untuk menghilangkan kecanduan, seseorang sebaiknya dipisahkan dari lingkungan yang mendorong dia untuk terjerumus dalam pemakaian Narkoba. Pusat Rehabilitasi merupakan suatu komunitas dimana disitu tinggal orang-orang yang mempunyai tujuan yang sama, yaitu terbebas dari belenggu Narkoba. Mereka saling membantu untuk mengatasi permasalahan masing-masing, sesuai dengan mottonya “Man helping man to help himself.” Lingkungan dan teman yang lebih positif tersebut diharapkan dapat mendorong perubahan perilaku para pecandu Narkoba.

3. Datang ke rehabilitasi membuka jendela kesempatan untuk tetap bersih dan sadar (clean and sober).
Di dalam Pusat Rehabilitasi dikenal dengan istilah ‘abstinentia’ yang berarti putus obat. Begitu masuk Rehab, seorang Resident samasekali tidak boleh mengkonsumsi Narkoba. Hal itu tercantum dalam tiga Aturan Utama (Cardinal Rules) yaitu, 1. No Drugs (Dilarang memakai Narkoba), 2. No Sex (Dilarang berhubungan sexual secara sembarangan) 3. No Violence (Dilarang berbuat kekerasan). Oleh karena itu, memasuki Rehabilitasi membuat seseorang berkesempatan untuk tetap bersih (dari obat-obatan terlarang) dan sadar (waras/tidak mabuk). Pembiasaan yang lama disertai dengan proses penyadaran diri ini memungkinkan seorang Pecandu tetap bisa menjaga kebersihan dan kewarasannya (clean and sober) dengan tidak mengkonsumsi Narkoba lagi setelah keluar dari Pusat Rehabilitasi.

4. Datang ke rehabilitasi dapat mengatur pemulihan yang sukses untuk jangka panjang.
Pusat Rehabilitasi mempunyai suatu Program Pemulihan untuk jangka waktu yang cukup lama. Dalam Komunitas Terapeutik (Therapeutic Community) sejumlah aturan ditetapkan agar seorang resident benar-benar bisa fokus dalam menjalani pemulihan. Di tahapprimary seorang harus mengikuti program pemulihan selama 6 bulan sampai dengan1 tahun, setelah itu baru menginjak ke tahap Re-entry dan Aftercare. Dengan program-program tersebut diharapkan seorang pecandu dapat benar-benar pulih bukan hanya untuk sementara, melainkan untuk jangka waktu yang lama, sehingga mereka benar-benar dapat hidup baik di tengah keluarga maupun masyarakat sesuai dengan norma-norma yang ada.

5. Datang ke rehabilitasi dapat memberikan kembali banyak sukacita kecil dalam hidup.
Seorang pecandu biasanya mempunyai kebiasaan malas bekerja dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya. Pusat Rehabilitasi mengajarkan hal-hal sederhana yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, mulai bangun tidur hingga tidur kembali. Mereka dilatih untuk peka dan memperhatikan hal-hal kecil di sekitarnya. Mereka berlatih mengurus diri sendiri dan anggota komunitas secara benar, dengan demikian mereka sendirilah yang menciptakan suasana dalam lingkungan rumah tersebut. Bila dikerjakan dengan baik, hal-hal kecil ini dapat mendatangkan sukacita bersama.

6. Datang ke rehabilitasi dapat membuat kesehatan secara holistik lebih baik.Masalah kesehatan sering dilalaikan oleh seorang pecandu, selama menjadi pecandu hidup mereka tidak teratur, banyak yang kemudian mengalami gangguan kesehatan. Efek dari penyalahgunaan obat juga mempengaruhi kesehatan mereka, berbagai penyakit diderita oleh para pecandu seperti HIV/AIDS, lever, ginjal, paru-paru, dlsb.

Pusat rehabilitasi menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi standar kesehatan. Mereka diajarkan untuk hidup tertib, bersih, berolahraga, serta mengkonsumsi makanan yang sehat. Secara medis mereka juga diharuskan untuk cek kesehatan di laboratorium atau Rumahsakit. Kehidupan semacam itu membuat seorang resident dapat memiliki kesehatan yang lebih baik secara holistik .

7. Datang ke rehabilitasi dapat menghemat banyak uang untuk jangka panjang.Tidak diragukan lagi bahwa seorang pecandu terbiasa menghabiskan uang dalam jumlah yang besar untuk membeli Narkoba dan mengikuti gaya hidup lingkungan mereka. Tidak jarang mereka mengambil harta keluarga secara paksa dan menghabiskannya untuk berfoya-foya. Mereka tidak bisa mengelola keuangan secara baik, karena ulahnya banyak keluarga yang kehilangan harta benda dengan sia-sia. Dengan masuk ke rehabilitasi diharapkan seorang sembuh dari kecanduannya dan tidak mengkonsumsi obat lagi, selain itu perilaku mereka diharapkan akan menjadi lebih baik, mampu bersikap jujur termasuk dalam hal pengelolaan keuangan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa datang ke Pusat Rehabilitasi akan menghemat banyak uang untuk jangka panjang.


8. Pergi ke rehabilitasi memberi kesempatan untuk membangun kembali relasi dalam kehidupan.Salah satu alasan mengapa seorang pecandu mengkonsumsi Narkoba adalah mereka tidak bisa mengatasi masalah dalam kehidupannya. Relasi dengan keluarga biasanya juga terganggu, masyarakat cenderung memberi stigma buruk bagi mereka. Relasi yang rusak ini diakibatkan oleh perilaku serta pandangan yang salah dalam diri mereka. Selama menjalani rehabilitasi mereka diajak untuk memperbaiki hubungan khususnya dengan keluarga mereka. Mengampuni adalah sikap yang sangat tepat untuk membangun kembali relasi dalam kehidupan. Beberapa session dalam rehabilitasi memberi kesempatan bagi para pecandu dan keluarganya untuk mengadakan sebuah rekonsiliasi.

9. Datang ke rehabilitasi dapat membantu mengembalikan kehidupan rohani.Kehidupan spiritual seorang pecandu biasanya mengalami kekeringan. Kekecewaan dan kegagalan dalam hidup membuat mereka goyah. Mereka sulit apabila diajak untuk berdoa, kegiatan spiritual hanya sebatas luarnya saja, tidak muncul dari hatinya. Di Pusat Rehabilitasi yang berbasis therapeutic community terdapat empat struktur program, yaitu behaviour (tingkah laku), emotional/psikological (psikologis), spiritual (kerohanian), dan vocational/survival (ketrampilan). Spiritual memegang peran yang cukup penting dalam proses rehabilitasi. Setiap hari tidak pernah lepas dari kegiatan yang bersifat spiritual. Therapeutik Community bersifat universal, perpedaan kepercayaan bukan merupakan suatu masalah, mereka selalu diajak untuk percaya pada kekuatan yang berasal dari “The Highest Power” (Yang Mahakuasa).

10. Datang ke rehabilitasi dapat membawa kembali kehidupan yang sejati.Seorang pecandu mempunyai kehidupan yang semu. Kenikmatan atau kebahagiaan yang dirasakan hanya bersifat sementara, mereka lari dari kenyataan hidup, dan bersembunyi dibalik pengaruh obat-obatan. Di dalam Pusat Rehabilitasi mereka diputuskan dari kehidupan yang semu tersebut. Betapapun sakitnya mereka harus berusaha untuk berani menghadapi realita kehidupan. Memang hal itu tidak mudah untuk dilakukan, namun dengan bantuan para konselor serta teman-teman yang senasib, mereka diharapkan mampu untuk kembali ke kehidupan yang normal. Dalam Rehabilitasi perilaku mereka dibentuk kembali, emosi diatur, diberi bekal spiritual, serta dilatih ketrampilan untuk bertahan dalam hidup. Sangat nyata bahwa dengan mendatangi Pusat Rehabilitasi seseorang dipulihkan baik secara biologis, psikologis, spiritual dan lingkungan sosial. Semua itu memungkinkan anda untuk meraih kehidupan yang telah hilang dan kembali kepada kehidupan yang sejati. (Yayasan Sekar Mawar – Bandung)